Psikologi Kepribadian Carl Rogers



MAKALAH PSIKOLOGI KEPRIBADIAN II
“CARL ROGERS”
 




Oleh:
KELOMPOK 8
Alisha Ulfa Lubis                              15-078
Abraham  Pasaribu                           15-080
Luqman Nul Hakim                          15-082
Nadya Ingrida Brahmana                  15-084
Clarissha Berti                                    15-086

FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2016


CARL ROGERS
Awalnya carl roger ini memiliki sebuah pendekatan yang populer dalam psikoterapi yang dokenal dengan non direktif ataupun terapi client-centered kemudian menjadi person-centered. Psikologi terapi ini telah menghasilkan sejumlah penelitian besar dan penerapannya yang secara luas mengenai pengobata terhadap gangguan emosional seseorang. Teori yang dikeluarkan oleh Rogers dalam hal kepribadian menggunakan humanistik seperti Maslow tetapi Rogers ini membuat sebuah kerangka yaitu therapist relationship. Dalam mengembangkan sebuah teori bukan dari penelitian laboratorium pada umumnya tetapi dalam mengembangkan sebuah teori ia menggunakan pengalamannya dalam menangani klien. Sehingga, formulasinya pada struktur dan dinamis kepribadian berasal dari pendekatan terapeutik.
Ketika klien berada dalam teraupeutik maka situasi tersebut dapat menampakkan sifat asli dari klien. Person-centered therapy ini menyarankan agar kemempuan untuk mengubah dan memperbaiki kepribadian ini berpusat di dalam diri seseorang. Jadi, dalam mengubahnya itu adalah orang itu sendiri dan buakn dari terapinya. Sesungguhnya, peran terapi hanyalah membantu atau memfasilitasi dalam perubahan tersebut.
Roger percaya bahwa kita diperintah oleh persepsi yang kita sadari dari dalam diri kita. Tetapi dia menolak bahwa masalalulah yang menentukan prilaku kita sekarang dan walaupun ia mengakui pengalam saat kecil memperngaruhi kita tentang bagaimana mempersepsikan lingkungan kita, dan diri kita. Rogers berkukuh kalau emosi dan perasaan memiliki dampak lebih besar terhadap kepribadian. Karena adanya penekanan terhadap kesadaran dan pada saat sekarang, Rogers juga berpendapat bahwa kepribadian kita hanya kita yang mengerti yang berdasarkan dari pengalaman yang subjektif.
Rogers mengusulkan bahwa bawaan dan motivasi utama menjadi kecenderungan bawaan untuk mengaktualisasikan, mengembangkan kemampuan danpotensi. Jadi, tujuan utama ini adalah untuk mengaktualisasikan diri yang disebut oleh rogers sebagai  fully functioning person.



The Life Of Rogers (1902-1987)
A reliance on his own experience
Rogers anak ke empat dari enam bersaudara dan lahir tahun 1902 di Oak Park, Illinois, pinggir kota Chicago. Orang tuanya menerapkan agama yang kuat, menekankan moral dan keutamaan dari kerja keras. Keyakinan ini memaksanya hidup pada pandangan dunia orang lain bukan dirinya. Rogers sedikit dalam bersosialisasi dengan dunia luar dan orangtuanya lebih menyukai saudaranya yang lebih tua sehingga menyebabkan persaingan antara mereka. Roger mengakui ia sebagai sosok yang pemalu, soliter, pemimpi, dan tenggelam dalam fantasi. Rogers dibesarkan dengan “kenangan yang tidak terlupakan karena ia sebagai bahan lelucon oleh saudaranya, bahkan ia kelaparan suka cita bersama ibunya” (Milton, 2002, p. 128).
Untuk menghindari kesepian yang ia rasakan, maka ia mengisi kesepiannya dengan membaca buku, buku apapun yang ia temukan dan tidak henti membaca sampai kamus dan ensiklopedia ia baca. Kesepian yang ia rasakan membuatnya bergantung pada sumberdaya dan pengalaman, pengalaman pribadinya, yang menjadikannya dasar teori kepribadian. Setahun kemudian, ia menyadaribahwa betapa kesepiannya ia yang berpengaruh terhadap teori dan kepribadiannya itu.
ketika saya melihat kebelakang, saya menyadari bahwa minat saya dalam wawancara dan terapi pasti tumbuh dari awal kesepian. Disini adalah cara yang tepat secara sosial untuk benar-benar mendapatkan kedekatan dengan individu dan dengan demikian mengisi beberapa kelaparan yang pasti saya rasakan. (roger, 1980,p. 34 ).
Ketika Roges berumur 12 tahun, keluarganya pindah ke sebuah peternakan yang jauhnya 30 mil dari Chicagi. Kehidupan desa membuat minatnya terbangun mengenai ilmu pengetahuan. Pertama, ia terpesona oleh ngengat (masih satu spesies kupu-kupu yang emiliki perbedaan dengan kupu-kupu) yang ia temukan di hutan, ia mengamati, menangkanya, dan memeliharanya selama berbulan-bulan. Kedua, ia menjadi tertarik pada pertanian karena ayahnya mengejar dengan modem, metode ilmiah. Kemudian ia memilih untuk belajar pertanian di University of Wisconsin tetapi setelah tahun kedua, ia meninggalkan studinya untuk mempersiapkan sebuah pelayanan. Kemudian Roger dipilih untuk menghadiri konferensi mahasiswa Kristen Internasional di Beijing, Cina. Selama enam bulan perjalanan, ia menulis pada orangtuanya bahwa filsafat hidup berubah, pandangan agama berayun dari fundamentalis dengan liberal.
Rogers menyadari bahwa ia bisa “berpikir dengan pikiran saya sendiri, datang dengan kekesimpulan saya sendiri, dan mengambil langkah yang saya percayai” (Rogers, 1967, p. 351). Pembebasan dan keyakinan ia kuatkan dengan berpendapat bahwa semua manusia harus belajar untuk mengandalkan proses sulit yang mereka alami dan membayar harga tinggi pada emosional.
A unique approach to counseling
            Pada tahun 1924, Rogers lulus dari University of Wisconsin kemudian menikah dengan teman masa kanak-kanaknya dulu. Ia masih memiliki niat untuk menjadi seorang pendeta kemudia ia pindah ke perguruan tinggi dari columbia university, diseberang jalan, ada studi klinis dan psikologi pendidikan dan ia menerima gelar Ph.D. di tahun 1931 dan bergabung dengan staf child study departement of the society untukpencegahan kekejaman terhadap anak-anak di Rochester, New York. Tugasnya ialah mendiagnosa dan menobati anak-anak yang nakal dan kurang mampu. Kemudian ia merumuskan pandangan tentang konseling bagi orang-orang terganggu secara emosional. Ia juga telah menghabiskan tahun 1945-1957 di University of Chicago, mengajar dan mengembangkan pusat konseling. Ketika ia tidak mampu menyembuhkan kliennya maka suatu hari ia jatuh sakit dan menderita gangguan saraf, kepercayaan dirinya hancur “sudah pasti saya tidak sempurna sebagai terapis, saya tidak dihargai sebagai seseorang dan kurang dalam bidang psikologi di masa depan : (rogers, 1967, p. 367). Kemudian rogers dan istrinya pergi meninggalkan chicago ke sebuah tempat terkecil dan selama 6 bulan Rogers dirawat dan keadaannya membaik sehingga mereka kembali lagi ke universitas dan ia menyadari bahwa betapa mendalamnya perasaan tidak aman itu dan ia percaya bahwa “tak seorangpun bisa mencintai saya, meskipun mereka mungkin bertingkah seperti apa yang saya lakukan” (dikutip di milton, 2002, halaman 131). Kemudian Rogers kembali dengan kemampuan barunya dalam terapi yaitu memberi dan menerima kasih juga untuk membentuk hubungan emosional yang mendalam dengan orang lain, termasuk kliennya.



The Self And The Tendency Toward Actualization
            Saat Rogers sedang dalam perjalanan menuju Cina, dia menyadari pentingnya autonomousself dalam perkembangan dirinya sendiri. Penelitian terdahulunya menguatkan pentingnya self dalam pembentukan kepribadian. Ia mengembangkan sebuah metode untuk menentukan perilaku anak termasuk sehat dan konstruktif (healthy and constructive) atau tidak sehat dan destruktif (unhealthy and destructive) dengan cara menginvestigasi latar belakang anak dan dinilai berdasarkan faktor yang dipercayai akan mempengaruhi perilaku, seperti lingkungan keluarga, kesehatan, perkembangan intelektual, keadaan ekonomi, pengaruh kebudayaan, interaksi sosial, dan tingkat pendidikan. Selain itu ada juga faktor internal seperti self-understanding dan self-insight (penerimaan akan dirinya dan realita serta rasa tanggung jawab terhadap diri sendiri.
            Seorang murid Rogers bernama William Kell mengadaptasi pendekatan Rogers untuk mencoba memprediksi perilaku dari anak yang nakal. Menurut Rogers, faktor yang paling berpengaruh dalam perilaku nakal adalah lingkungan keluarga dan interaksi sosial, namun dia salah dan ternyata yang paling akurat pengaruhnya adalah self-insight. Hal yang mengejutkan adalah lingkungan keluarga tidak terlalu berpengaruh terhadap perilaku nakal. Penelitian oleh Helen McNeil yang mereplikasi studi Rogers mendapatkan hal yang sama yaitu tingkat self-insight menjadi prediktor tunggal perilaku yang paling penting. 
            Rogers percaya bahwa orang termotivasi oleh kecenderungan yang tidak terlalu kelihatan untuk menunjukkan, mempertahankan, dan meningkatkan self-nya. Dorongan aktualisasi diri ini adalah bagian actualization tendency yang mencakup kebutuhan fisiologis dan psikologis manusia. Sebagai penjelasan, dengan memenuhi kebutuhan dasar manusia akan makanan, minum, keamanan, dan sebagainya, actualization tendency tersebut berperan sebagai motivasi untuk mempertahankan hidup. Actualization tendency dimulai dalam rahim, memfasilitasi pertumbuhan manusia dengan memberi perbedaan fungsi organ fisik dan perkembangannya, kemudian juga berperan dalam proses kematangan seseorang. Rogers memberi istilah organismic valuing process, yaitu proses dimana kita menilai pengalaman (nilai pengalaman tersebut) untuk mengembangkan atau menghalangi aktualisasi dan perkembangan. Melalui proses ini kita mengevaluasi seluruh pengalaman hidup dengan melihat seberapa kuat pengalaman itu memenuhi actualization tendency. Pengalaman yang kita anggap meningkatkan actualization dievaluasi sebagai pengalaman yang baik dan diinginkan sehingga dikategorikan sebagai nilai positif.
The Experiential World
            Rogers menitikberatkan pada pengalaman yang dialami sehari-hari dalam teori-teorinya. Teori Rogers ingin mengetahui bagaimana manusia merasakan dan bereaksi terhadap berbagai pengalamannya. Menurutnya, persepsi kita mengatur realita lingkungan kita, sehingga tidak selalu sama dengan realita. Setiap manusia berbeda-beda dalam bereaksi terhadap pengalaman tertentu. Rogers juga memiliki istilah phenomenology yang mengatakan bahwa realita yang paling meyakinkan untuk kita adalah pengalaman subyektif kita sendiri, yaitu persepsi kita sendiri terhadap realita. Pendekatan ini mengacu pada deskripsi yang tidak memihak terhadap persepsi sadar kita terhadap dunia ini, dimana saat itu terjadi kita tidak berusaha untuk menganalisis atau menginterpretasinya. Rogers mengatakan kalau poin penting mengenai pengalaman kita dalam dunia ini merupakan privasi dan hanya masing-masing kita yang mengetahuinya. Ketika actualization tendency kita saat bayi membawa kita menuju pertumbuhan dan perkembangan, pengalaman-pengalaman kita semakin meluas. Misalnya ketika bayi diberikan berbagai stimulasi dan mereka merespon sebagaimana yang mereka tangkap secara subyektif. Pengalaman kita menjadi dasar utama terhadap penilaian dan perilaku kita. Semakin tinggi perkembangan pengalaman kita dalam dunia ini akan semakin kuat membentuk self kita.

The Development Of The Self In Childhood
            Pengalaman kita terus berkembang saat masih bayi. Ketika bayi membentuk pengalaman yang lebih kompleks dari berbagai situasi sosial, bagian-bagian dari pengalamannya akan dipisahkan dari yang lain. Bagian yang terpisah ini diterjemahkan kedalam kata saya atau diriku adalah bentuk self-concept yang merupakan gambaran siapa diri kita, akan menjadi apa kita, dan harus jadi apa kita. Biasanya, self merupakan bentuk yang konsisten dan teratur.
Positive Regard
            Rogers mengatakan bayi akan membentuk sebuah kebutuhan saat selfnya muncul, yaitupositive regard yang kemungkinan kebutuhan ini dipelajari. Kebutuhan ini universal dan terjadi terus menerus. Kebutuhan ini termasuk penerimaan, kasih sayang, dan pengakuan dari orang lain, yang mana pada masa bayi dimulai dari ibunya.
            Menurut Rogers, bayi merasa senang ketika menerima positive regard, dan karena positive regard ini penting sekali dalam perkembangan kepribadiannya, perilaku bayi ditentukan oleh seberapa besar kasih sayang yang diberikan kepadanya, dan jika ibunya tidak memberikan positive regard, kecenderungan bayi untuk membentuk aktualiasasi dan perkembangan self-concept menjadi terhambat.
            Ketika positive regard tetap diberikan pada bayi walaupun perilaku bayi tidak diinginkan, maka akan terjadi kondisi yang disebut sebagai unconditional positive regard, dimana positive regard tetap diberikan tanpa mempertimbankan perilaku seseorang. Perilaku kasih sayang ibu terhadap anaknya, dimaksud oleh Rogers, adalah penuh, bebas, dan tidak terbatas atau tergantung pada perilaku anaknya.
            Seiring perkembangannya, positive regard akan didapat semakin banyak dari diri kita sendiri dibandingkan dari orang lain. Roger menyebut kondisi ini adalah positive self-regard, dan nantinya akan menjadi semakin kuat seperti kebutuhan kita terhadap positive regard dari orang lain dan dapat dipenuhi dengan cara yang sama. Secara sederhananya, kita belajar untuk memberi reward/balasan positif pada diri kita sendiri. Positive self-regard dan positive regard bersifat timbal balik. Ketika orang menerima positive regard dan membentuk positive self-regard, dia akan kembali memberikan positive regard pada orang lain.

Conditions of Worth
               Kondisi layak (condition of worth) yang berkembang secara positif  membentuk self-regard yang positif. Self-regard positif merupakan versi Rogers terhadap pandangan superego Freudian yang berasal dari hal positif bersyarat. Dalam buku ini dibahas bahwa pandangan (regard) positif yang tidak bersyarat seperti kasih sayang orang tua, dan menerima bayi yang lahir tanpa adanya syarat tertentu. Sedangkan pandangan (regard) positif yang bersyarat membahas hal yang sebaliknya.
Orang tua mungkin tidak bereaksi terhadap segala sesuatu bayi mereka lakukan dengan hal yang positif. Beberapa perilaku menjengkelkan, menakut-nakuti, atau perilaku yang membosankan bayi mengakibatkan bayi sulit untuk memberikan kasih sayang. Dengan demikian, bayi belajar bahwa kasih sayang orangtua memiliki harga; itu tergantung pada berperilaku tepat.
Jika orangtua menunjukkan perasaan jengkel setiap kali bayi menjatuhkan obyek dari tempat tidur bayi, anak belajar untuk tidak berperilaku seperti itu seperti itu lagi. Standar eksternal penghakiman (judgement) bagian menjadi internal dan personal. Dalam arti, anak-anak akan menghukum diri mereka seperti yang orang tua mereka lakukan. Anak-anak mengembangkan self-regard  berdasarkan persetujuan orangtua, membentuk self-concept, kemudia berfungsi sebagai pengganti peranan orangtua. Setelah diinternalisasi norma dan standar orangtua, mereka melihat diri mereka sebagai yang berguna atau tidak berguna, baik atau buruk, menurut istilah orang tua mereka didefinisikan.

Incongruence
Tidak hanya anak-anak yang belajar, idealnya, untuk menghambat perilaku yang tidak dapat diterima, anak-anak juga dapat menolak atau mendistorsi pengalaman mereka yang tidak sesuai (inkongruensi). Dengan memegang persepsi yang tidak akurat dari suatu pengalaman, anak berisiko akan merasa terasing dari diri mereka yang sebenarnya. Hal ini mengakibatkan ketidaksesuaian antara konsep diri dan dunia pengalaman, lingkungan seperti yang kita rasakan.
Pengalaman yang tak selaras atau tidak sesuai (incongruence) dengan konsep diri kita menjadi ancaman yang kemudian ditampilkan dalam bentuk kecemasan. Sebagai contoh, jika self-concept kita ‘mengasihi seluruh umat manusia’ namun setelah kita bertemu seseorang yang kemudian merasakan kebencian, kita cenderung menunjukkan sisi kecemasan. Membenci tidak kongruen dengan self-concept kita orang sebagai penuh kasih. Sehingga untuk mempertahankan self-concept kita harus menyangkal bahwa kita tidak membenci seseorang tersebut.
Psikologis orang yang sehat mampu melihat diri mereka sendiri, orang lain, dan peristiwa yang berkembang di dunia. Psikologis orang yang sehat seharusnya terbuka terhadap pengalaman baru tidak merasa adanya ancaman terhadap self-concept yang dimiliki. Kita tidak perlu menolak atau mendistorsi persepsi karena kita dapat menerima hal positif tanpa syarat tanpa tidak harus menginternalisasi secara utuh. Kita dapat mengembangkan dan mengaktualisasikan semua aspek dari diri, menjadi orang yang berguna/bermanfaat bagi diri sendiri da orang lain seperti yang disebut Rogers "kehidupan yang baik."

Characteristic of Fully Functioning Person
Menurut Rogers, orang yang berguna/bermanfaat (fully functioning) merupakan hal yang diinginkan dalam perkembangan psikologis dan evolusi sosial. Sehingga, ia menggambarkan karakteristik yang harus dimiliki, yaitu :
·         Fully functioning persons are aware of all experience (memiliki kesadaran terhadap seluruh pengalaman)
Tidak ada pengalaman terdistorsi atau ditolak; semua itu tergantung diri sendiri. Tidak ada pembelaan diri karena tidak ada yang perlu dibela, tidak ada ancaman terhadap self-concept. Seseorang dikatan berguna (fully functioning) ketika ia terbuka untuk perasaan positif seperti memiliki keberanian dan kelembutan, dan perasaan negatif seperti rasa takut dan rasa sakit.
·         Fully functioning persons live fully and richly in every moment (hidup sepenuhnya dan bersyukur setiap saat)
Semua pengalaman berpotensi memiliki kondisi baru. Pengalaman tidak dapat diprediksi atau diantisipasi tetapi kita harus turut berpartisipasi dalam sepenuhnya dalam pengalaman bukan hanya diamati pengalaman yang ada.
·         Fully functioning persons trust in their own organism (percaya terhadap sesama)
Dalam konteks ini Rogers memaparkan bahwa seseorang dikatakan fully functioning merupakan orang yang percaya terhadap reaksi diri mereka sendiri bukan seolah-olah dipandu oleh pendapat orang lain, dengan kode sosial, atau dengan penilaian intelektual. Berperilaku terhadap sesuatu karena hal itu dirasa benar merupakan panduan yang baik dan merasa puas dalam berperilaku demikian
·         Fully functioning persons feel free to make choices without constraints or inhibitions (merasa bebas untuk membuat pilihan tanpa adanya kendala dan hambatan)
Seoakh-olah kita merasa memiliki kekuasaan karena kita tahu masa depan tergantung pada tindakan sendiri dan bukan oleh keadaan sekarang, peristiwa masa lalu, atau orang lain.
·         Fully functioning persons are creative and live constructively and adaptively as environmental conditions change (kreatif dan hidup secara konstruktif dan adaptif terhadap perubahan kondisi lingkungan)
Seseorang dikatakan fully functioning ketika memiliki sisi fleksibel dan mau mencari pengalaman baru juga tantangan. Cenderung seseorang demikian tidak memerlukan prediktabilitas, keamanan, dan bebas dari ketegangan.
·         Fully functioning persons may face difficulties (dapat mengatasi kesulitan yang dihadapi)
Kondisi ini mencakup pengujian secara berkelanjutan, bertumbuh, berjuang, menggunakan seluruh potensi yang dimiliki yang akan membawa pada kompleksitas dan juga tantangan. Rogers tidak mendeskripsikan bahwa seorang fully functioning sebagai seseorang yang bahagia, gembira, merasa puas, walaupun tidak menutup kemungkinan demikian. Namun, lebih tepatnya bahwa seorang fully functioning memiliki kepribadian yang dideskripsikan seperti memperkaya, menarik, dan bermakna.

Question About Human Nature


 












Pada bagian free will versus determinism, Rogers menyatakan bahwa sepenuhnya orang fully functioning mempunyai pilihan bebas dalam menciptakan diri mereka. Dengan kata lain, tidak ada aspek kepribadian yang telah ditentukan untuk mereka. Pada bagian nature versus nurture, Rogers memberi keunggulan untuk peran lingkungan. Meskipun kecenderungan aktualisasi bawaan/alamiah, proses aktualisasi sendiri juga lebih dipengaruhi aspek sosial daripada biologis. Pengalaman masa anak-anak memiliki dampak pada pengembangan kepribadian, tapi pengalaman masa kini lebih memiliki pengaruh yang besar.
Rogers mengakui bahwa kualitas universalitas dalam kepribadian, ia mencatat bahwa seorang fully functioning membagikan kualitas tertentu. Namun, kita dapat menyimpulkan dari tulisan-tulisannya bahwa ada kesempatan untuk keunikan dalam cara karakteristik ini disajikan. Tujuan utama dan penting dari kehidupan adalah menjadi seorang fully functioning sepenuhnya.
Sebuah teori kepribadian yang kredit orang dengan kemampuan, motivasi, dan tanggung jawab untuk memahami dan memperbaiki diri jelas merupakan seorang yang optimis dan positif. Rogers percaya kita memiliki sifat yang pada dasarnya sehat dan memiliki kecenderungan bawaan untuk bertumbuh dan memenuhi tanggung potensi kita. Rogers tidak pernah kehilangan optimisme ini.
 
Assessment in Rogers’s Theory: Person-Centered Therapy, Encounter Groups, and Psychological Test.
 
               Bagi rogers, satu satunya cara untuk menaksirkan kepribadian adalah dengan pengalaman subjektif seseorang, kejadian dalam hidup seseorang saat ia melihat atau merasakan dan kemudian menerima kejadian tersebut.Rogers yakin bahwa klien kliennya memiliki kemampuan untuk memeriksa akar permasalahnya dan mengarahkan perkembangan kepribadian yang telah terhambat oleh inkongruensi diantara konsep mereka sendiri dan pengalaman  mereka.
 
Person-Centered Therapy
               Didalam teknik terapi berpusat pribadi. Rogers mengeksplorasi perasaan klien dan sikap terhadap diri dan orang lain. ia mendengarkan tanpa prasangka, mencoba memahami dunia pengalaman klien. Meskipun rogers menganggap terapi berpusat pribadi satu satunya penilaian untuk penaksiran kepribadian, dia berkata bahwa itu tidak mutlak. Dengan berkofus kepada pengalaman, ahli terapis hanya mempelajari tentang kejadian kejadian yang klien ungkapkan. Namun pengalaman- pengalaman  yang tidak disadari terjadi oleh klien akantetap tersembunyi/tidak bisa diungkapkan.  Bahaya ketika mencoba untuk  menyimpulkan terlalu banyak tentang pengalaman yang tidak disadari ini adalah pengalaman aktual klien akan terkalahkan oleh kesimpulan ahli terapis. Dan juga, yang akan hanya ahli terapi pelajari tentang seorang klien itu berantung kepada kekampuan klien dalam berkomunikasi. Karena semua bentuk komunikasi itu tidak sempurna, ahli terapis akan salah dalam melihat pengalaman klien yang tidak sempurna tadi.
               Dengan batasan ini, terapi berpusat pribadi menyediakan pandangan atas pengalaman seseorang lebih jelas daripada bentuk penaksiran dan terapi lainnya. Salah satu keuntungan atau manfaat  yang rogers akui untuk pendekatannya adalah bahwa hal itu tidak bergantung pada struktur teoritis yang telah ditentukan (seperti psikoanalisis Freud) dimana terapis harus sesuai masalah pasien.satu-satunya keyakinan yang telah ditetapkan ahli terapis terapi berpusat pribadi yaitu memberikan mereka hal positif tanpa syarat dan tidak mengkritik tentang perilaku atau menyarankan mereka tentang bagaimana seharusnya berperilaku. semuanya kembali lagi kepada kemauan klien, termasuk tanggung jawab untuk mengubah perilaku dan mengevaluasi hubungan.
               Roggers menentang teknik penilaian seperti asosiasi bebas, mimpi, analisis, dan kasus sejarah. Dia percaya mereka membuat klien klien bergantung pada ahli terapi, yang diasumsikan memiliki keahlian dan wewenang. teknik ini menghilangkan tanggung jawab pribadi dari klien dengan memberi mereka kesan bahwa terapis tahu semua tentang mereka. klien harus menyimpulkan bahwa terapis akan memecahkan masalah mereka dan semua yang mereka perlu lakukan adalah tenang dan mengikuti instruksi ahli.
 
Encounter Groups
 Rogers mendemonstasikan bahwa terapi berpusat pribadi dapat membantu individu yang tidak bisa dijangkau dengan perasaan mereka dan menutup diri dari pengalaman hidup. Melalu proses terapi, manusia dapat membangun atau memperoleh kembali fleksibelitas, spontanitas, dan keterbukaan.
               Dengan semangat missioner, rogers ingin membuat keadaan kesehatan psikologis ini ditingkatkan dan beraktualisasi untuk banyak orang, jadi dia dapat mengembangkan sebuah teknik kelompok dimana orang dapat lebih belajar tentang diri mereka sendiri dan bagaimana mereka berhubungan, atau bertemu, satu sama lain. Dia menamai pendekatannya/teorinya ini the encounter group ( rogers,1970). Selama 1960an dan 1970an. Jutaan orang di amerika serikat memilih untuk ambil bagian dalam pengalaman pertemuan kelompok.
               Jumlah dalam satu kelompok sekitar 8-15 orang. Mereka biasanya bertemu 20 sampai 60 jam selama beberapa sesi. Mereka mulai dengan struktur atau agenda yang tidak formal. Pemimpin diskusi bukanlah seorang pemimpin seperti biasanya. Dialah yang menetapkan suasana sehingga anggota kelompk tersebut dapat mengekspresikan diri mereka dan fokus pada bagaimana orang lain memandang mereka. Tugas Pemimpin grup/facitilitator adalah untuk membuat anggota merasa lebih mudah untuk memperoleh wawasan diri dan ber aktulisasi diri. Beberapa orang mengutarakan perasaan lebih baik dan lebih sadar akan sifat asli mereka setelah mereka berpatisipasi didalam sebuah pertemuan kelompok. Rogers percaya bahwa banyak(meskipun tidak semua) peserta akan lebih mengaktulisasikan diri.
               Tidak semua ahli pisikologi setuju. Sebuah meta-analisis dari 63 penelitian pertemuan kelompok mengungkapkan bahwa keberhasilan mereka telah dibandingkan dengan terapi fisikologi tradisonal( faith, wong,& carpenter, 1995). Analisis juga menunjukan bahwa kelompok yang lebih besar yang bertemu lebih sering menghasilkan keuntungan daripada kelompok yang lebih kecil yang jarang bertemu. Pertemuan kelompok tidak lagi sepopuler ketika rogers mempromosikannya, tapi pertemuan kelompok ini masih dilakukan oleh para pengikutnya sebagai cara membujuk orang untuk meningkatkan potensi mereka.
 
Psychological Test
               Rogers tidak menggunakan uji fisiologi untuk menaksir kepribadian, maupun mengembangkan tes apapun. Bagaimanapun, ahli psikolog telah merancang tes untuk aspek ukuran atas pengalaman. The Experience Inventory ( Coan, 1972) a self-report question-naire adalah bentuk tes berupa daftar pertanyaan yang dijawab sejumlah orang, dan informasi diambil dari jawab jawaban tersebut, mencoba untuk menilai keterbukaan atau kemauam menerima pengalaman, karakteristik dari orang yang beraktualisasi diri. The Experience Scale ( gendlin & tomlinson, 1967). Mengukur tingkat kepercayaan dalam diri kita. orang yang melakukan tes ini tidak merespon secara langsung. Mereka boleh berbicara tentang apa saja yang mereka inginkan, dan rekaman suara mereka kemudian dinilai untuk tingkat kepercayaan diri; contohnya seberapa banyak mereka mengakui perasaan mereka adalah informasi penelelitian yang penting sebagaiperilaku dasar, atau seberapa banyak mereka menyangkal perasaan tersebut mempengaruhi keputusan mereka.
               The experiencing scale telah digunakan dengan terapi berpusat pribadi. Orang yang membuat kemajuan paling besar dalam terapi menyatakan adanya peningkatan kepercayan diri dari sebelum terapi sampai setelah terapi. Mereka yang menunjukan sedikit kemajuan selama terapi menyatakan tidak ada peningkatan kepercayaan diri selama terapi. Mereka yang mengalami gangguan emosi kurang parah menyatakan kepercayaan diri mereka  lebih berkembang daripada mereka yang mengalami gangguan emosi lebih parah (Klein, Malthieu,Gndlin& Kiesler, 1969)
 
Research in Rogers’s Theory
               Rogers percaya bahwa wawancara berpusat pribadi, yang mengandalkan self-report(bentuk tes berupa daftar pertanyaan) klien, bernilai lebih besar daripada metode eksperimen. Didalam pandangannya, pendekatan ilmiah yang lebih ortodoks menghasilkan informasi yang lebih kurang pada sifat kepribadian daripada pendekatan klinis. Dia berkata “ Saya tidak pernah mempelajari apapun dari penelitian. Kebanyakan penelitian saya telah mengkorfimasi apa yang saya rasa sudah benar” (kutipan dalam Bergin & strupp,1972, p.314). Meskipun rogers tidak menggunakan metode laboratorium untuk mengumpulkan data dengan kepribadian, dia memang menggunakannya untuk mencoba memverifikasi dan mengkonfirmasi pengamatan klinis. Dia sangat antusias dengan peneilitian tentang sifat dari sesi terapi, sebuah ide ditolak oleh banyak dokter yang melihat hal tersebut sebagai pelanggaran privasi.
               Apa yang sudah rogers lakukan yaitu memperkenalkan prosedur radikal. Dia merekam dan memfilmkan sesi terapi untuk memungkinkan para peneliti mempelajari interaksi terapi klien. Sebelum adanya penemuan roger, satu satunya data yang tersedia dari sesi terapi ialah after-the fact-reconstruction ahli terapi. Yang berguna untuk memutar balik kenangan dengan berlalunya waktu, sebuah catatan tertulis luput dari atau tidak mengenai sasaran keadaan emosional dan bahasa tubuh klien. Terkadang ekspresi wajah dari nada suara lebih mengungkapkan/jelas dari kata-kata. dengan sesi terapi yang direkam atau dicatat segalanya menjadi bisa untuk dipelajari. rogers menghubungkannya seperti mikroskop yang dapat digunakan untuk memeriksa "molekul perubahan kepribadian"(Roger 1974, p. 120). Beliau selalu mendapatkan izin klien untuk merekam sesi dan ia menemukan bahwa kehadiran peralatan peralatan tersebut tidak menghambat jalannya terapi.
 
 
 
Evaluating Person-Centered Therapy
               Rogers dan rekan rekannya juga mempelajari bagaimana self-reportberubah selama terapi berjalan. Dengan menggunakan kualitatif dan kuantitatif teknik di tradisi ilmiah (meskipun klaim rogers untuk tidak menjadi seorang ilmuwan), mereka menganalisa sesi terapi. Dengan menerapkan skala penilaian dan analisis atas verbalisasi klien, mereka menyelidiki perubahan dalam self-report. Banyak penelitian telah menggunakan q-sort technique yang merupakan teknik laporan diri untuk menilai aspek konsep diri, sebuah prosedur tetap yang dikembangkan oleh William Stephensn /(Stehenson 1953). Di teknik ini , klien mengurutkan sejumlah besar pernyataan tentang self-report ke kategori yang berkisar dari yang paling deskriptif sampai ke setidaknya deskriptif. Demikian, The Q-Sort adalah cara yang berdasarkan pengalaman untuk mendefinisikan gambaran diri klien.
Tipe Q-sort laporan adalah sebagai berikut:
1. Saya senang sendiri.
2. Saya merasa tidak berdaya.
3. saya bersifat emotional.
               The Q Sort bisa digunakan dalam bantak cara. Contohnya setelah menggolongkan pernyataan dalam hal yg klien rasakan, klien juga diminta utuk menggolongkan pernyataan yang sama yaitu diri yang ideal bagi klien, seperti, menjadi sosok atau pribadi yang mereka inginkan.
Pernyataan Q sort yang beliau rasa dari sebelum terapi dan sesudah terapi.
Dirinya sebelum terapi
Dirinya, setelah12 bulan sesudah terapi
Saya selalu merasa didorong atau tertekan
Saya mengekspresikan perasaan saya dengan bebas.
Saya bertanggung jawab untuk masalah saya
Saya merasa dewasa secara emotional.
 
Saya sungguh berpusat diri.
Saya bisa bergantung pada diri sendiri.
 
Saya orang yang tidak teratur atau berantakan.
Saya mengerti dengan diri saya sendiri,
Saya merasa tidak percaya diri dengan diri saya.
Saya merasa mampu
Saya harus melindung diri saya dari alasan alasan, dengan mencari cari alasan.
Saya memiliki hubungan emosional yang hangat dengan orang lain.

 
               Dari data yang dihasilkan, koefision korelasi awal +.36 diantara apa yang dirasakan oleh diri dan diri yang dirasa ideal. Setahun setelah terapi, koefision korelasi telah meningkat ke +.79, sesuai menurut rogers bahwa apa yang dirasakan oleh nyonya oak menjadi lebih kongruen dengan yang dirasa ideal atau keiinginan dirinya. (Rogers, 1954). Dia menyimpulkan bahwa perubahan dramatis ini mencerminkan peningkatan didalam kesehatan emosional.
               Nyonya oak memilih frase Q sort yang berbeda untuk menjelaskan dirinya sebelum dan sesudah terapi. Sebelum sesinya dengan rogers, dia telah melihat gambaran dirinya sebagai seorang yang bergantung dan pasif. Dia juga merasa telah di tolak oleh masyarakat atau orang lain. Setelah terapi, nyonya oak merasa dia sudah seperti pribadi yang diinginkannya selama ini. Dia merasa lebih kuat, tidak takut, dan lebih mampu berhubungan dengan orang lain (lihat table 12.2)
               Sebuah studi oleh rekan rekan roger mengukur perbedaan antara apa dirasakan diri dan apa yang sebenarnya ideal bagi diri dari 25 klien. (butler & haigh, 1954). Para peneliti menemukan bahwa Perbedaan tersebut menurun dari waktu ke waktu selama dan sesudah terapi. Sebelum terapi koefision korelasi rata rata diantara apa yang dirasakan diri dan apa yang sebenarnya ideal bagi diri adalah -.01 dan setelah terapi adalah +.31
               Para peneliti menggunakan q sort untuk memberikan bukti yang mengesankan untuk efektivitas orang berpusat pribaditapi memberikan sedikit informasi tentang validitas teori kepribadian roger ini. Penelitian lain sudah menguji beberapa konsep beliau.

Openness Experience
Q sort  digunakan untuk menguji proposisi Rogers bahwa orang lebih terbuka kepada pengalaman, sedangkan orang yang tidak sehat secara psikologis berusaha melindungi diri terhadap pengalaman citra diri mereka. Hasilnya menunjukkan bahwa semua peserta penelitian lebih lambat merespon kata-kata yang bersifat mengancam daripada kata-kata netral

Acceptance Of Self
Penelitian lain mendukung keyakinan Rogers bahwa perilaku orangtua mempengaruhi citra diri seorang anak. Orang tua yang menerima anak-anak mereka tanpa syarat dan mendidik dengan demokratis menghasilkan anak yang memiliki emosional tinggi, harga diri yang lebih besar daripada anak dengan orang tua yang gagal menerima mereka dan yang menampilkan perilaku otoriter.
Emotional Adjustment
Beberapa studi mendukung Rogers bahwa ketidaksesuaian antara persepsi diri dan ideal-self  menunjukkan penyesuaian emosional yang buruk. Para peneliti telah menyimpulkan bahwa semakin besar perbedaan, semakin tinggi kecemasan, ketidakamanan, keraguan diri, depresi, ketidakmampuan sosial, dan gangguan psikologis lainnya. Juga, inkonsistensi tinggi dan ideal-self  berkorelasi dengan rendahnya tingkat aktualisasi diri dan harga diri.
Isu-Isu Penting Menurut Carl Rogers
1. Freewill > Determinism
            Fully functioning person memiliki kebebasan untuk membentuk diri mereka sendiri. Dengan kata lain, tidak ada aspek dari kepribadian yang telah ditentukan.
2. Nurture > Nature
            Dalam isu ini, Rogers menonjolkan peran dari lingkungan. Walaupun aktualisasi diri merupakan kecenderungan naluriah, proses aktualisasi diri tersebut lebih dipengaruhi oleh sosial daripada biologis.
3. Present Experiences > Past Experiences
            Menurut Rogers, masa kanak-kanak memang mempunyai beberapa efek pada perkembangan kepribadian, tetapi pengalaman ke depannya dalam kehidupan mempunyai pengaruh yang lebih besar. Perasaan kita sekarang ini lebih penting dari pada kejadian masa kanak-kanak kita.
4. Uniqueness = Universality
            Rogers mengenali adanya keuniversalan dalam kepribadian. Namun, kita juga dapat memperhatikan dari tulisannya bahwa ada peran dari keunikan dalam pengekspresian karakter ini.
5. Growth > Equilibrium
            Menurut pendapat Rogers, kita tidak dirusak oleh konflik dengan diri kita maupun dengan orang lain. Kita tidak diatur oleh naluri biologis atau dikontrol oleh kejadian dari 5 tahun pertama kita. Pandangan kita lebih ke arah progresif daripada regresif, lebih ke arah berkembang daripada stagnasi. Tujuan yang terakhir dan penting adalah berkembang menjadi fully functioning person.
6. Optimisme > Pesimisme
            Rogers menghargai seseorang dengan kemampuan, motivasi, dan tanggung jawab untuk mengerti dan mengembangkan diri mereka sendiri, memandang manusia dalam sisi positif dan optimis. Rogers percaya bahwa pada dasarnya kita memiliki nature yang baik dan kecenderungan naluriah yang bertumbuh dan akan melengkapi potensi kita. Rogers sendiri tidak pernah kehilangan optimisnya.

Daftar Pustaka

Schultz. E. S., dan Schultz. P. D., (2005). Theories of Personality. Eighth Edition. United States of
America: Wadsworth Cengage Learning.


           

Komentar